MAKAR!



Jumat ini adalah hari besar di dusunku. Orang-orang dari dusun tetangga berduyun-duyun datang. Sejak pagi mereka sudah singgah ke Masjid Desa buat berwudu dan salat sunah, lalu menggelar sajadah di lapangan desa untuk bersalat Jumat. Sembari menunggu adzan, mereka khusu berdzikir. Hasrat yang bergelora bahkan membuat mereka tidak beranjak kendati hujan menerpa.

Seusai salat Jumat, Pak Kades naik ke atas panggung. Ia mengenakan pakaian kebesarannya, kemeja putih lengan panjang, dan berdehem-dehem sebelum memulai pidatonya.

“Terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan desa kita,” kata Pak Kades dengan suara bariton yang penuh keharuan. “Saya amat menghargai seluruh jamaah yang hadir tertib sehingga semua acara bisa berjalan dengan lancar. Terimakasih! Sekarang semua pulang dengan tertib ya.”

Sehabis Pak Kades bersama para dubalang dan punggawanya angkat kaki, giliran Pak Sorban yang naik ke panggung. Ia mengajak jamaah bernyanyi Menanam Jagung yang sudah diplesetkan.

“Tangkap, tangkap, tangkap Pak Uruk sekarang juga!” pandunya membakar semangat khalayak.

Pak Uruk adalah kepala dusun kami. Orangnya baik, tegas, tapi mulutnya ampun-ampunan. Ada desas-desus bahwa ia korup dan dibeking 9 saudagar dari seberang pulau. Tapi tahu apa aku yang cuma tukang godam pandai besi ini?

Yang jelas tempo hari Pak Uruk salah ucap, entah sudah yang keberapa kali. Lantas barisan Pak Sorban ngamuk. Aku juga ngamuk, istriku juga ngamuk, teman-temaku juga ngamuk. Lha, kalau kitab suci kami dinista orang masak kami diam-diam saja?

“Wah, aku melihatnya tidak begitu, ini bukan sekadar masalah agama,” kata Pak Guru, waktu aku bertanya pentingnya aksi 122 ini.

“Piye toh Pak?”

“Yang namanya beragama itu tak boleh dilarang-larang, apalagi sampai menista. Kena pasal HAM itu. Melanggar sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab itu. Mau mayoritas kek, mau minoritas kek, tak boleh.”

“Tapi kan Pak Uruk sudah diusut, Pak. Sudah dijadikan tersangka oleh hansip.”

“Betul, tapi kau tahu kan kalau hukum di desa kita ini masih amis kepentingan. Makanya penegakan hukum harus dikawal. Jangan terjebak kalau aksi 122 nanti tidak penting. Masak kau lupa gejolak di kampung kita dua dekade silam, waktu itu massa aksi yang menekan aparat hukum jadi satu garda terdepan agar kasus-kasus hukum bisa cepat diputus adil.”

“Apa nanti ndak bikin kian terpecah-belah toh, Pak?”

“Jangan paranoid begitu?”

“Paranoid itu apa ya, Pak?”

“Ketakutan amat sampai membabi-buta. Cobalah amati. Penduduk desa kita amat beragam, tapi selama ini aman-aman saja kan? Mengapa? Karena kita sudah sama-sama belajar bahwa kunci bhineka itu ya toleransi. Mayoritas tidak seenak udel, dan minoritas tahu diri. Ini bukan masalah mayoritas-minoritas. Ini masalah mentang-mentang berkuasa lantas mengusik keyakinan orang. Ini yang bikin bahaya.”

Lamunanku pecah selepas aba-aba bubar dilantangkan. Bergegas, kugulung sajadah yang sudah kuyup. Terompa berlumpur kukenakan. Lantas, aku bergerak menembus kerumunan khalayak. Mendadak, seseorang menepuk bahuku. Rupanya Pak Kacamata orangnya.

“Sudah dengar? Tadi subuh, ada tokoh-tokoh desa kita diringkus hansip. Si Gendang, Bintang, Pentung, Bayonet trus...ya pokoknya sembilan orang jumlahnya.”

“Lha, masalahnya apa?”

“Bikin rapat gelap buat menggulingkan Pak Kades. Permufakatan jahat. Makar!”

Telingaku serasa mendenging. Janggal sekali. “Memangnya mereka bisa apa?” tanyaku.

“Kalau mereka menghasut jamaah buat menyerbu rumah Pak Kades bagaimana? Atau jamaah digiring buat menduduki kantor tetua desa? Makanya mereka diringkus sebelum aksi.”

“Masak? Tak masuk akal ah!”

Seruan itu membuat kami berpaling. Pak Guru sudah ada di belakang kami.

“Jadi bagaimana toh Pak?” tanyaku.

“Makar itu bukan macam kenduri. Kita buat rapat, bisik-bisik dan sebar undangan, lalu orang-orang mau pada datang. Tidak semudah itu. Mau gerakan jamaah dari lapangan desa ke rumah Pak Kades atau kantor tetua desa itu kan tak gampang. Mau ngomong berbuih-buih pun amat sulit karena kita kan sudah sepakat ini aksi super damai. Zikir dan salat bareng biar semua penduduk desa teringat kembali makna dari bhineka.”

Pak Kacamata bersikeras, seraya menyisir rambut gondrongnya yang lepek oleh air hujan dengan jemarinya yang kurus. “Tapi mereka itu tokoh-tokoh desa, Pak. Mereka pasti punya pendukung.”

“Malah karena itu mereka tak mungkin serampangan. Bu Karunia itu contohnya, ia puteri kades pertama kita lho. Masak mau ujug-ujug bikin hancur demokrasi yang dibangun bapaknya. Pak Gendang itu artis tenar yang baru-baru ini coba jadi politisi, masak sekonyong-konyong mikir makar. Pak Bintang juga begitu, ia sudah kenyang ditangkap zaman Pak Kades ke-2, tak mungkin ia tidak belajar dari pengalaman. Pak Pentung dan Pak Bayonet itu bekas aparat keamanan desa, masak mereka tidak paham hukum? Tak masuk di pikiranku.”

“Tapi mereka kan bisa minta tetua desa buat bikin rapat penjungkalan Pak Kades?” sahut Pak Kacamata.

“Pemimpin tetua desa itu baru diganti. Sekarang ia pro Pak Kades, kan kemarin mereka baru makan siang di kantor desa. Lagipula para tetua desa itu kebanyakan pro siapa? Banteng, Bumi, Restorasi, Hati, Matahari sampai Beringin sudah pro Pak Kades. Garuda sudah ketemu Pak Kades. Mercy sudah bilang tak akan menjungkal Pak Kades. Jadi bagaimana caranya mau makar lewat tetua desa?”

“Hansip bagaimana? Pentung dan Bayonet itu kan bekas hansip?” kejar Pak Kacamata.

“Seberapa kuat pula dukungan buat mereka. Ingat, selepas aksi 114, Pak Kades langsung tebar mesem kepada kesatuan hansip. Komandan hansip juga tampaknya kian lengket dengan Pak Kades.”

“Jadi maksud penangkapan ini apa toh Pak?” tanyaku polos.

“Lha ini! Tapi ini umpama lho ya. jangan diseriusin,” Pak Guru cengegesan. “Targetnya ya cuci muka. Kan, tempo hari sesudah aksi 114 santer maklumat ada aktor politik, trus makar, trus teroris. Yang teroris sudah pelan-pelan dibunyikan ke telinga orang-orang desa. Yang aktor politik sudah sukses diarahkan ke satu kalangan kendati buktinya cuma isapan jempol. Nah, yang makar kan belum diangkat.”

Pak Kacamata menetak, “Lha, tapi kan bisa lain waktu. Kenapa harus sebelum aksi 122 ditangkapnya?”

“Ya, itu dia. Bisa jadi biar kesannya bagus. Biar orang-orang desa langsung paham. ‘O, ternyata isu makar itu bener toh!’ Nah, sewaktu pikiran orang-orang desa sudah terbawa ke arah sana, Pak Kades langsung muncul di tengah jamaah, kasih pidato apik. Plok! Ia kembali jadi hero!”

“Ah, ini pasti karena Pak Guru ndak suka sama Pak Kades. Makanya tindakan Pak Kades selalu salah di mana Pak Guru,” gerutu Pak Kacamata.

“Lha, kamu ini bagaimana? Aku kan turut teriak-teriak dukung Pak Kades di pilkades tempo hari.

Masak kau lupa. Kau kebagian kaosnya juga kan?”

Pak Kacamata pun mesem-mesem seraya garuk-garuk kepala.
Reaksi:

7 komentar:

Posting Komentar