S@GI BEDAH KITAB KUNO BUTON MUNA




Sang Gerilya Institute (S@GI) menggelar bedah buku “Nasihat Leluhur untuk Masyarakat Buton-Muna”  karangan Prof. La Niampe, pada Kamis, 15/1/2015, bertempat di D’consulate Cafe Jakarta. La Niampe adalah Guru Besar bidang kebahasaan di  Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan ini dibuka resmi oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PAN dan RB) Dr. Yuddy Crisnandy. Bonnie Triyana (The Indonesia Institute) dan Oheo Sinapoy (budayawan lokal) bertindak sebagai pembedah buku, dengan dimoderatori oleh Indra J Piliang, Direktur Eksekutif S@GI. Berkesempatan hadir dalam acara tersebut Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam dan Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun. 

Dua kitab kuno menjadi sumber penulisan buku ini. Pertama, kitab “Kabanti Bula Malino” karangan Muhammad Idrus Qaimudin, sastrawan sufi yang pada usia 40 tahun mendapat amanah sebagai Sultan Buton. Sedangkan kitab “Kabanti Ajonga Yinda Malusa” dikarang oleh Syekh Haji Abdul Gainu, dikenal juga dengan nama Kenepulu Bula, seorang ulama sufi kelahiran Buton. Selain itu buku ini juga memuat naskah ”Silsilah Bangsawan Buton-Muna’ yang ditulis oleh Menteri Besar Buton awal abad ke-20.
  

Kedua kitab tersebut ditulis pada kisaran awal abad ke-19, sekitar 200-an tahun lalu, sebagai nasihat bagi masyarakat dan para pemimpin di kerajaan Buton –Muna.  Karena ditulis dalam bahasa daerah, yaitu Wolio tua, dengan huruf Wolio, maka La Niampe  menerjemahkan dan mempublikasikannya untuk dibaca kembali.

Buku ini merupakan hasil penelitian dan penelusuran dokumen kerajaan Buton-Muna yang tersimpan di berbagai museum dan perpustakaan di negeri Belanda. Isinya memuat berbagai informasi masa lampau, yaitu agama, sejarah sosial budaya, politik, pemerintahan dan budi pekerti masyarakat Buton-Muna.

Nasihat-nasihat tersebut masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menjadi sumber mata air kekayaan budaya lokal guna memperkuat muatan-muatan pembentukan karakter anak bangsa. Sudah selayaknya materi pendidikan karakter digali dari karakter leluhur setempat.


Selain masyarakat Buton-Muna yang ada di Jakarta, kegiatan ini juga diikuti oleh para peneliti bahasa dan budaya lokal dari berbagai lembaga. Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam yang hadir dalam kegiatan ini berharap buku ini dapat menjadi jembatan penghubung antara kehidupan masa lampau dengan masa yang akan datang bagi bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat Buton-Muna  Sulawesi Tenggara pada khususnya.
Reaksi:

2 komentar:

Posting Komentar