DAN MENTERI SUSI DIBULLY


Sore itu istana merdeka cerah, tetapi sungguh hari yang melelahkan bagi Susi Pudjiastuti. Usai pengumuman nama-nama menteri Kabinet Kerja 2014-2019 selesai, perempuaan kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965, itu mencari sisi istana yang kosong. Ia menanggalkan sepatu hak tinggi, yang sangat jarang dipakainya, dan duduk mencangkung sambil merokok.

Awak media pun merubung. "Ya rencana, Indonesia harus jaya di kelautan. (Indonesia) 70 persen adalah laut, dengan good will semua pihak bisa," jawabnya ringkas dan optimis, mengingat dirinya belum mendapat arahan dari Presiden Jokowi untuk berbicara detail soal rencana program kerja dan prioritas.

Namun tampaknya publik punya arah sendiri dalam menentukan tema mereguk kopi hari ini. Bukan optimisme itu yang  merebak, tetapi sebatang rokok yang dihembuskan oleh seorang menteri perempuan di istana negara, yang notabene merupakan kawasan dilarang merokok, yang naik ke permukaan.


Dan isu itu pun bergulir seperti bola salju. Dari rokok, Susi dibully perihal cerai 3 kali, punya tatto di betis, bersuamikan warga asing, sampai tidak pakai BH. Sosok Susi disebut-sebut kontraproduktif dengan revolusi mental yang digadang-gadang Jokowi-JK. Bahkan ada gerakan yang mencoba membenturkan Susi dengan Menkes Nila F Moeloek perihal merokok di ruang publik ini.

Para pakar yang tidak terima tamatan SMP jadi menteri juga turut memprotes. Sampai akhirnya muncul pelbagai guyon buat apa sekolah, toh dengan tamat SMP bisa jadi menteri. Bahkan para relawan Jokowi-JK pun terpecah dalam menyikapi Susi.

Saya sendiri punya pikiran bahwa amanah Jokowi terhadap Susi tak perlu dipersoalkan. Jika bicara background pendidikan formal, kita sepakat kalau Susi memang tidak layak jadi Menteri Kelautan Perikanan. Tapi posisi menteri bukan cuma faktor expertise dari sisi pendidikan formal. Karena jka iya, pastilah seluruh menteri akan bertitel profesor. Ranah Ilmu pengetahuan sudah begitu menyempit, maka untuk setiap pos menteri sejatinya kita akan menemukn profesor atau minimal doktor yang tepat.

Tapi menteri tidak sekedar ekpertise dari sisi pendidikan formal. Expertise juga bisa tumbuh dari sisi pendidikan informal, dari sisi pengalaman. Dan sebagaimana kita ketahui, Susi merupakan pengusaha sukses di bidang budidaya dan ekspor hasil-hasil perikanan. Dia punya pengalaman di sektor sektor perikanan sekitar 30 tahun.

Banyak orang-orang sukses di muka bumi ini yang tidak sempurna dari sisi pendidikan formal. Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Jack Dorsey adalah sosok-sosok luarbiasa yang DO dari bangku kuliah.

Di tanah air kita kenal Dahlan Iskan yang tidak selesai kuliahnya, ada pula pengusaha Basrial Koto pemilik group media massa Haluan, sampai Masril Koto, pengebrak bank petani yang terpaksa mengenyam pendidikan formal  hanya sampai kelas IV SD. Pemikiran dan sepakterjangnya mereka menjadi bahan pertimbangan dan analisis kalangan yang memiliki pendidikan formal jauh di atasnya.

Google sendiri membuka ruang bagi para ahli non pendidikan formal. Mereka menyebut kalangan ini sebagai ekspertis harian, orang-orang yang ahli karena sehari-hari bergelut di bidang tersebut. ini bukan berarti gagal di ranah pendidikan formal itu baik. Substanasinya, terpaksa berhenti sekolah bukan kiamat dunia.

Lagipula bicara menteri bukan cuma teori-teori, tetapi juga praktek. Seorang menteri dituntut bukan hanya digjaya pada tatanan “what” tetapi juga harus mampu “how to”, implementasinya. Selama ini negara kita kuat pada aras konsepsi, tapi lemah diimplementasi. Seorang ekspretise harian kuat pada sisi ini.  Di sinilah posisi Susi.

Apalagi sesuai dengan namanya Kabinet Kerja, Jokowi melihat Susi Pujiastuti sebagai orang kerja, dan Susi lolos seleksi KPK. Saya memprediksi Susi akan jadi Dahlan Iskan ke-2. Dia tidak segan-segan potong kompas budaya dan aturan kolot agar tujuan kementerian yang dipimpinnya bisa tercapai.

Terkait dengan kebiasaannya yang diluar pakem, saya pikir akan sulit objektif jika hendak menilai benar-salahnya. Karena ini perkara gaya hidup, dan kalau kita mau jujur demikianlah potret kelas menengah kita saat ini. Jadi selama tidak berdampak fatal bagi kemashalatan publik. So, what gitu lo?

Bagi saya, revolusi mental bukan sekedar rokok, BH atau kawin-cerai, tapi kekaryaan. Bagaimana sang pemalas dan si mapan bisa produktif. Bagaimana si individualis bisa berpikir perihal orang banyak. Bagaimana para penerima suap bisa menyadari kesalahannya.

Di satu sisi, keberadaan Susi di Kabinet Kerja bisa merupakan pancingan dari revolusi mental. Jika seorang perempuan tamatan SMP bisa sukses, lalu mengapa kita tidak bisa mengecap kondisi serupa? Bukankah ini motivasi untuk hidup lebih produktif? Bukankah ini juga yang dikejar oleh revolusi mental?  

Tak ada gading yang tak retak. Susi Pujiastuti juga punya kekurangan. Tinggal objektifitas. Jika yang dituntut kerja, mari kita awasi kerjanya. Memilih menteri adalah hak pregoratif presiden. Jokowi bisa salah, tapi kesalahan ini bisa diluruskan, yang terpenting biarkan Susi Pudjiastuti kerja dulu.

Evaluasi menteri bisa lewat program 100 hari, 6 bulan dan setahun. Jka kena rapor merah, Susi tinggal masuk kotak. Kini tugas kita bukan bikin recok, tapi dukung dan awasi kerja-kerja Susi. Kalau mengecewakan, yuk sama-sama minta ke Jokowi agar Susi dilengserkan
Reaksi:

1 komentar:

Posting Komentar